Kita Pahlawan di Cerita Sendiri, Bisa Jadi Villain di Cerita Orang Lain
Hampir semua orang merasa dirinya benar. Kita punya alasan. Kita punya niat baik. Kita tahu konteks yang orang lain tidak tahu. Dalam cerita yang kita bangun tentang diri sendiri, kita adalah protagonist (tokoh utama).
Namun masalahnya, hidup bukan hanya satu cerita.
Dalam cerita orang lain, kita bisa saja terlihat sebagai antagonist (tokoh yang melawan) atau bahkan villain (tokoh jahat).
Bukan karena kita merasa jahat.
Tetapi karena sudut pandangnya berbeda.
Laba-Laba dan Pelajaran tentang Perspektif
Dalam puisi “Mercy” karya Rudy Francisco, seorang perempuan meminta agar laba-laba dibunuh. Namun sang penutur memilih cara lain. Ia menangkap laba-laba itu dengan gelas dan tisu, lalu melepaskannya ke luar rumah.
Di akhir puisi, ia berkata:
If I am ever caught in the wrong place
at the wrong time…
I hope I am greeted with the same kind of mercy.
Artinya kurang lebih:
Jika suatu hari saya berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, hanya karena saya hidup dan tidak mengganggu siapa pun, saya berharap diperlakukan dengan belas kasih yang sama.
Puisi ini mengajak kita melihat dari sudut yang berbeda.
Bagi manusia, laba-laba adalah ancaman.
Bagi laba-laba, ia mungkin hanya berjalan di tempat yang tidak tepat.
Di sinilah kata mercy (belas kasih) menjadi penting. Mercy muncul ketika kita berhenti sebentar dan mempertimbangkan sudut pandang lain.
Ketika Laba-Laba Membalas Bicara
Dalam puisi lain berjudul “10 Legs 8 Broken”, perspektifnya dibalik. Kali ini laba-laba yang berbicara.
Ia menyebut manusia sebagai pembunuh. Ia bertanya:
What’s your excuse?
If you could count your murders, how long would you be counting?
Artinya:
Apa alasanmu? Jika kamu menghitung semua makhluk yang kamu bunuh, berapa lama kamu akan menghitungnya?
Laba-laba mengatakan bahwa ia memang punya racun karena ia dilahirkan seperti itu. Lalu ia bertanya pada manusia: apa alasanmu?
Puisi ini mengguncang. Ia membuat kita sadar bahwa dalam narasi kita, kita adalah pihak yang benar. Namun dalam narasi makhluk lain, kita bisa terlihat kejam.
Kita merasa sedang menjaga rumah.
Laba-laba merasa sedang dibunuh.
Siapa yang benar?
Jawabannya tergantung siapa yang bercerita.
Mengapa Kita Jarang Melihat Diri sebagai Villain?
Otak manusia punya kecenderungan alami untuk membela diri. Ketika kita melakukan kesalahan, kita menjelaskan niat dan alasan kita. Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita menilai dari dampaknya.
Inilah yang dalam psikologi disebut self-serving bias (kecenderungan membela diri sendiri).
Kita melihat diri sebagai:
tegas
jujur
membela diri
melakukan yang perlu dilakukan
Namun orang lain mungkin melihat kita sebagai:
keras
menyakitkan
tidak peduli
merugikan
Kita protagonist dalam cerita kita.
Kita bisa villain dalam cerita orang lain.
Mercy sebagai Koreksi Perspektif
Puisi “Mercy” memberi satu pilihan: menunjukkan belas kasih karena kita sadar suatu hari kita bisa berada di posisi yang sama.
Puisi “10 Legs 8 Broken” memberi peringatan: tanpa kesadaran perspektif, kita mudah menjadi pelaku yang merasa benar.
Mercy bukan berarti semua tindakan harus dibiarkan. Mercy bukan berarti kita tidak boleh menjaga diri.
Mercy berarti kita sadar bahwa sudut pandang kita bukan satu-satunya sudut pandang.
Mercy adalah jeda sebelum menghancurkan.
Mercy adalah pintu atau jendela sebelum palu.
Jika Kita yang Salah Tempat
Bayangkan suatu hari kita berada di lingkungan baru. Kita berbeda. Kita dianggap mengganggu hanya karena keberadaan kita.
Kita tentu berharap diperlakukan dengan adil, bahkan dengan pengertian.
Kalimat dalam puisi “Mercy” sebenarnya sangat manusiawi:
Jika saya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah, saya berharap diperlakukan dengan belas kasih.
Itu bukan hanya tentang laba-laba. Itu tentang kita semua.
Menjadi Protagonis yang Sadar
Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menulis cerita tentang kita. Namun kita bisa mengurangi kemungkinan menjadi villain tanpa sadar.
Caranya bukan dengan selalu mengalah, tetapi dengan:
mau melihat dari sudut pandang lain
tidak cepat menghakimi
memberi ruang sebelum menghukum
Dalam “10 Legs 8 Broken”, laba-laba tidak meminta dicintai. Ia hanya berkata mungkin, jika tidak bisa diterima, setidaknya bisa ditunjukkan pintu.
Kadang, mercy sudah cukup.
Kita akan selalu menjadi protagonist dalam cerita sendiri. Itu wajar.
Namun kedewasaan dimulai ketika kita sadar bahwa kita bisa terlihat berbeda dalam cerita orang lain.

Mercy
She asks me to kill the spider.
(Dia memintaku membunuh laba-laba itu.)
Instead, I get the most
peaceful weapons I can find.
(Sebaliknya, aku mengambil “senjata” paling damai yang bisa kutemukan.)
I take a cup and a napkin.
(Aku mengambil sebuah gelas dan tisu.)
I catch the spider, put it outside
and allow it to walk away.
(Aku menangkap laba-laba itu, membawanya ke luar, dan membiarkannya pergi.)
If I am ever caught in the wrong place
at the wrong time, just being alive
and not bothering anyone,
(Jika suatu hari aku terjebak di tempat yang salah
pada waktu yang salah, hanya karena aku hidup
dan tidak mengganggu siapa pun,)
I hope I am greeted
with the same kind
of mercy.
(Aku berharap disambut
dengan belas kasih
yang sama.)
10 Legs 8 Broken
To the spider,
the shadowed creature in the corner of the room
i hate you.
(Kepada laba-laba,
makhluk berbayang di sudut ruangan,
aku membencimu.)
You scared me just as your brothers and sisters did before you, and i will tell you
what i told them, You are a trespasser that does not belong here.
(Kau menakutiku seperti saudara-saudaramu sebelumnya, dan aku akan mengatakan padamu
apa yang kukatakan pada mereka, kau adalah penyusup yang tidak pantas berada di sini.)
You entered without knocking.
(Kau masuk tanpa mengetuk.)
Roamed freely like this is your home and decorated my walls with unwanted, silk
webs without asking.
(Kau berkeliaran seolah ini rumahmu dan menghiasi dindingku dengan jaring sutra yang tidak kuinginkan tanpa izin.)
You may not be the only killer here, but only one of us is innocent, and it’s not you.
(Mungkin kau bukan satu-satunya pembunuh di sini, tetapi hanya satu dari kita yang tidak bersalah, dan itu bukan kau.)
The spider says to me, its brittle body squashed and dying, It’s not you, either.
(Laba-laba itu berkata kepadaku, tubuh rapuhnya terhimpit dan sekarat, Itu juga bukan kamu.)
There is venom infused in my fang-shaped maw.
(Ada racun yang tersimpan dalam rahangku yang berbentuk taring.)
but i was born this way.
(tetapi aku dilahirkan seperti ini.)
What’s your excuse?
(Apa alasanmu?)
If you could count your murders, how long would you be counting?
(Jika kau menghitung semua pembunuhanmu, berapa lama kau akan menghitungnya?)
Am i really this threatening?
(Apakah aku benar-benar semengancam itu?)
I thought human hearts were bigger than mine, but you have killed with malice
instead of marrow of your bones and poison bubbling behind
your scowl
(Aku pikir hati manusia lebih besar dari milikku, tetapi kau membunuh dengan niat jahat,
bukan karena naluri tulangmu dan racun yang menggelegak di balik
raut wajahmu.)
And i’m sorry for scaring you, but i didn’t know being seen would cost me my life.
(Dan aku minta maaf karena menakutimu, tetapi aku tidak tahu bahwa terlihat olehmu harus dibayar dengan nyawaku.)
Maybe
(Mungkin)
If you didn’t fabricate the prickly feeling of my legs creeping upon your skin while i crawled across the living room floor,
(Jika kau tidak membayangkan sensasi geli kaki-kakiku merayap di kulitmu saat aku berjalan melintasi lantai ruang tamu,)
If the webs i weaved were made of cotton candy and captured clementines, cherries, and sweet peas rather than struggling wings and blood;
(Jika jaring yang kutenun terbuat dari permen kapas dan menangkap jeruk, ceri, dan kacang manis alih-alih sayap yang meronta dan darah;)
If i had a pink tongue, plush fur, a wagging tail, and four legs instead of eight
(Jika aku memiliki lidah merah muda, bulu lembut, ekor yang bergoyang, dan empat kaki, bukan delapan;)
If i had only two eyes, and they were glittering stars and not supermassive black holes;
(Jika aku hanya punya dua mata, dan itu berkilau seperti bintang, bukan seperti lubang hitam raksasa;)
If i was the same but looked different;
(Jika aku tetap sama, tetapi terlihat berbeda;)
maybe you wouldn’t hate me.
(mungkin kau tidak akan membenciku.)
Maybe you wouldn’t have loved me, either, and maybe you still wouldn’t have let me stay,
(Mungkin kau juga tidak akan mencintaiku, dan mungkin tetap tidak akan membiarkanku tinggal,)
but maybe you would’ve shown me the door or a window.
(tetapi mungkin kau akan menunjukkan pintu atau jendela.)
Maybe you would’ve shown me mercy.
(Mungkin kau akan menunjukkan belas kasih.)
(But you are still standing, and i am still sorry).
(Tetapi kau masih berdiri, dan aku tetap meminta maaf.)
I think maybe,
(Aku pikir mungkin,)
no matter how reluctant, mercy would’ve been enough.
(seberapa pun beratnya, belas kasih saja sudah cukup.)