Press ESC to close

Das Sein dan Das Sollen

  • Jun 11, 2025
  • 3 minutes read

Dua Cara Melihat Hukum

Bayangkan sebuah kota di atas bukit, dibangun oleh aturan dan nilai yang diyakini warganya. Di kota ini, dua cara pandang membentuk bagaimana hukum dipahami. Yang satu menunjukkan realitas apa adanya. Yang lain menggambarkan standar ideal yang ingin dicapai. Dalam filsafat hukum, keduanya dikenal sebagai Das Sein dan Das Sollen.

Keduanya tidak saling meniadakan. Justru ketegangan di antara keduanya menentukan apakah hukum benar-benar hidup atau hanya tertulis.


Hukum sebagai Standar Ideal

Das Sollen adalah hukum sebagaimana dirumuskan. Ia hadir dalam larangan korupsi, kewajiban bersikap jujur, aturan keselamatan lalu lintas, dan prinsip keadilan yang dijunjung negara hukum. Ia menjawab pertanyaan tentang apa yang seharusnya dilakukan.

Dalam kerangka ini, hukum berfungsi sebagai kompas. Ia memberi arah perilaku, menetapkan batas, dan menawarkan gambaran tentang tatanan sosial yang dianggap adil dan layak diperjuangkan.


Hukum sebagai Kenyataan Praktik

Berbeda dengan itu, Das Sein adalah hukum sebagaimana dijalankan. Di sini kita bertemu dengan pelanggaran batas kecepatan meski rambu jelas, proses hukum yang sulit membuktikan kekerasan, dan praktik korupsi yang tetap bertahan walau aturan tegas.

Ini bukan persoalan niat baik atau buruk semata. Ini adalah fakta lapangan tentang bagaimana hukum bekerja ketika berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, dan keterbatasan sistem.


Jarak yang Menggerus Kepercayaan

Masalah muncul ketika jarak antara Das Sein dan Das Sollen melebar. Secara konsep jaraknya terlihat kecil, tetapi dampaknya terasa luas. Keadilan dianggap lambat. Norma terasa lemah. Kepercayaan publik mulai terkikis.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat sering mengambil jalan pintas. Pelanggaran kecil dibiarkan karena dianggap wajar. Praktik tidak etis dinormalisasi karena sudah lama terjadi. Ketidakadilan diabaikan karena mengakuinya berarti harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak nyaman.


Penyangkalan sebagai Masalah Etis

Penyangkalan sering dianggap solusi praktis, padahal justru memperdalam masalah. Menghindari kenyataan tidak pernah mempersempit jarak antara norma dan praktik. Ia hanya membuat penyimpangan terasa biasa.

Dalam etika, Das Sollen berfungsi sebagai ukuran moral. Ia memberi tahu bagaimana seharusnya manusia bertindak karena nilai kemanusiaan menuntutnya. Sementara Das Sein adalah cermin yang jujur tentang bagaimana keputusan benar-benar diambil.

Ketika keduanya terus menjauh, yang terlihat bukan sekadar kegagalan hukum, tetapi kegagalan menjaga konsistensi moral.


Tanggung Jawab Individu di Antara Norma dan Fakta

Memahami kesenjangan ini penting bukan hanya bagi pembuat kebijakan. Ia relevan bagi setiap individu yang hidup di bawah aturan. Hukum tidak bergerak dengan sendirinya. Ia hidup melalui pilihan manusia sehari-hari.

Artinya:

  • Norma menjadi bermakna ketika dijalankan

  • Aturan menjadi kuat ketika tidak dinegosiasikan demi kenyamanan

  • Kepercayaan tumbuh ketika praktik mendekati janji

Tidak ada jembatan besar yang langsung menutup jurang ini. Yang ada adalah langkah-langkah kecil yang konsisten.

Dunia yang lebih adil dibangun bukan oleh mereka yang menutup mata terhadap kenyataan, tetapi oleh mereka yang berani melihat jarak antara “yang ada” dan “yang seharusnya”, lalu memilih untuk memperkecilnya, setapak demi setapak.

Related Posts

Philosophy of Everyday Life

Nietzsche

  • Mei 17, 2026
  • 7 minutes read
  • 19 Views
Nietzsche
Philosophy of Everyday Life

Hanacaraka

  • Mei 11, 2026
  • 7 minutes read
  • 31 Views
Hanacaraka
Philosophy of Everyday Life

Memanjat ke Ujung Bulu

  • Mei 06, 2026
  • 5 minutes read
  • 44 Views
Memanjat ke Ujung Bulu
Philosophy of Everyday Life

Dunia Sophie

  • Mei 06, 2026
  • 5 minutes read
  • 46 Views
Dunia Sophie
Mas Wicarita

Founder WIcarita, portal untuk Knowledge Management System