Press ESC to close

Mengapa Menikah

  • Mei 16, 2025
  • 4 minutes read

Sore itu taman kota biasa saja. Orang lalu lalang, anak kecil berlarian, dan dua sahabat duduk di bangku sambil ngobrol ringan.

Rara memutar cincin di jarinya lalu bilang, “Saya rencana menikah tahun depan.”

Bayu menoleh, tidak kaget, tapi penasaran. “Oke. Tapi saya mau tanya satu hal. Alasan paling besarnya apa?”

Rara mau jawab, tapi berhenti. Bukan karena tidak siap, tapi karena baru sadar pertanyaan itu tidak pernah benar-benar ia jawab untuk dirinya sendiri.

Bukan Soal Cepat atau Lambat

Kebanyakan orang kalau dengar kabar pernikahan langsung bertanya, “Sama siapa?”
Padahal ada satu pertanyaan yang sering dilewatkan, “Untuk apa?”

Socrates pernah bilang, hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani. Kalau diterjemahkan ke bahasa nongkrong, kurang lebih artinya begini: jangan asal jalan, pikirkan dulu mau ke mana.

Pernikahan juga begitu. Kalau alasan menikah cuma ikut arus, cepat atau lambat akan muncul rasa capek yang tidak jelas sumbernya.

Menikah Itu Pilihan Hidup, Bukan Checklist

Friedrich Nietzsche punya istilah amor fati, artinya mencintai jalan hidup yang dipilih, bukan sekadar menerimanya. Dalam bahasa simpel, jangan jalan sambil mengeluh, tapi sadar bahwa itu memang jalan yang dipilih sendiri.

Kalau menikah tidak nyambung dengan cara seseorang memandang hidup, relasi akan terasa seperti pakaian yang ukurannya tidak pas.

Simone de Beauvoir mengingatkan bahwa menikah bukan berarti berhenti jadi diri sendiri. Pernikahan itu bukan garis finish, tapi arena latihan. Latihan dewasa, latihan bertumbuh, latihan beresin konflik tanpa kabur.

Alasan Menikah Itu Bertingkat

Kalau dibongkar pelan-pelan, alasan menikah biasanya ada di beberapa level.

Level paling dasar, kata Aristoteles, manusia itu makhluk sosial. Pengen ditemani, pengen ada yang diajak pulang, pengen hidup terasa lebih teratur. Itu wajar.

Naik satu tingkat, Søren Kierkegaard menyebut komitmen sebagai leap of faith, lompatan keyakinan. Maksudnya, menikah itu sadar penuh bahwa masa depan tidak bisa diprediksi, tapi tetap mau melangkah.

Di level spiritual, Al-Ghazali melihat pernikahan sebagai sarana memperbaiki diri. Pasangan bukan alat bahagia instan, tapi cermin. Kadang menyenangkan, kadang bikin risih karena memperlihatkan sisi yang tidak ingin dilihat.

Coba Nanya ke Diri Sendiri

Bayu lalu nyeletuk ke Rara, “Kalau kamu nulis surat ke diri kamu sepuluh tahun lagi, kamu pengen nulis apa soal pernikahanmu?”

Pertanyaan ini kelihatan sepele, tapi penting. Ludwig Wittgenstein bilang the limits of my language mean the limits of my world, batas bahasa menentukan batas dunia. Artinya, kalau tidak bisa menyebutkan harapan dengan jelas, dunia yang dibangun juga akan kabur.

Soal Memilih Partner, Bukan Penonton

Ada cerita sederhana. Dua orang mau naik gunung.

Yang satu bilang, “Siapa saja boleh, yang penting mau ikut.”

Yang satu lagi mikir, “Saya butuh partner yang tahan dingin, bisa baca peta, dan tidak panik kalau salah jalur.”

Jawabannya jelas siapa yang lebih siap sampai puncak.

Martin Buber menyebut hubungan sejati sebagai relasi I–Thou, aku dan kamu sebagai manusia utuh, bukan I–It, aku dan benda. Dalam bahasa nongkrong, pasangan itu teman jalan, bukan penumpang.

Mengecek Alasan Sebelum Melangkah

Ada beberapa pertanyaan jujur yang sering dihindari.

Sigmund Freud membantu kita bertanya, “Saya menikah karena sadar atau karena takut dianggap tertinggal?”

Max Scheler mengajak melihat nilai. Apakah pernikahan ini tentang rasa aman, kebebasan, atau tumbuh bareng?

Lalu Hannah Arendt menyarankan satu latihan mental. Bayangkan skenario terburuk. Kalau itu terjadi, apakah masih mau bertahan dan belajar?

Jawaban yang Datang Terlambat

Ada cerita tentang seseorang yang membayangkan ngobrol dengan versi dirinya di usia tua.

Pertanyaannya singkat, “Apa kesalahan terbesarmu soal pernikahan?”

Jawabannya juga singkat, “Bukan salah orangnya. Salah alasannya.”

Kalimat itu sering datang terlambat, tapi tetap relevan untuk yang masih di awal jalan.

Menikah Itu Proses, Bukan Pajangan

Michel Foucault pernah bilang bahwa manusia itu proyek yang terus dikerjakan. Pernikahan bukan etalase hasil akhir, tapi bengkel bersama. Kadang berantakan, kadang bikin bangga, tapi selalu ada yang diperbaiki.

Rara akhirnya menarik napas dan berkata, “Saya pengen menikah karena siap jalan bareng, bukan cuma biar kelihatan sudah sampai.”

Bayu tersenyum. “Kalau begitu, kamu sudah mulai dari tempat yang benar.”

Related Posts

Philosophy of Everyday Life

Nietzsche

  • Mei 17, 2026
  • 7 minutes read
  • 19 Views
Nietzsche
Philosophy of Everyday Life

Hanacaraka

  • Mei 11, 2026
  • 7 minutes read
  • 31 Views
Hanacaraka
Purpose & Meaning

Kierkegaard dan Penyesalan

  • Mei 07, 2026
  • 4 minutes read
  • 54 Views
Kierkegaard dan Penyesalan
Philosophy of Everyday Life

Memanjat ke Ujung Bulu

  • Mei 06, 2026
  • 5 minutes read
  • 44 Views
Memanjat ke Ujung Bulu
Mas Wicarita

Founder WIcarita, portal untuk Knowledge Management System